BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Dalam sebuah
organisasi, kita mengenal dua peranan yang masing-masing berbeda antara yang
satu dengan yang lainnya. Peran yang pertama kita kenal dengan istilah peranan
kepemimpinan mengerjakan hal yang benar, dan yang kedua kita menyebutnya
dengan istilah peranan manajemen mengerjakan hal secara benar atau pelaksanaan.
Perbedaan yang
signifikan antara kedua peranan di atas adalah jika dikaitkan dengan otak kanan
dan otak kiri. Peranan kepemimpinan umumnya diatur oleh otak kanan, adapun
peranan manajemen diatur oleh otak kiri.sedangkan dalam hubungannya dengan
dinamika organisasi, maka peran kepemimpinan tidak terlepas dari pembagiannya
serta keterkaitannya dengan aspek Kepemimpinan,
Mengambil
keputusan, Mengelola konflik dan Membangun tim.
Dalam makalah
ini kita akan membahas empat pembagian peran kepemimpinan dalam
organisasi tersebut.
B. RUMUSAN MASALAH
Pada makalah ini penulis akan membahas tentang:
1.
Mengapa Mempelajari Kepemimpinan Itu
Penting?
2.
Kapan Proses Pembuatan Keputusan Itu
penting?
3.
Mengelola Konflik
4.
Membangun Tim
C.TUJUAN PENULISAN
Tujuan
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.
Untuk
Mengetahui
Peran
Kepemimpinan yang efektif
2.
Untuk Mengetahui Kapan Proses
Pembuatan Keputusan Itu penting
3.
Cara Mengatasi Konflik
4.
Mengetahui Cara Membangun Tim
BAB II PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN PERAN KEPEMIMPINAN
Sebelum
membahas tentang pembagian peran kepemimpinan terlebih dahulu kita akan
memaparkan tentang pengertian peran kepemimpinan itu sendiri. Kepemimpinan
adalah adalah proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang
diorganisasi ke arah pencapaian tujuan. Dalam
pengertian lain kepemimpinan adalah kemampuan dan keterampilan seseorang yang
menduduki jabatan sebagai pimpinan satuan kerja untuk mempengaruhi orang lain,
terutama bawahannya, untuk berfikir dan bertindak sedemikian rupa sehingga
melalui perilaku yang positif ia memberikan sumbangan nyata dalam pencapaian
tujuan organisasi.
Sedangkan
pengertian peran adalah perilaku yang diatur dan diharapkan dari seseorang
dalam posisi tertentu. Jadi dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa
peranan kepemimpinan adalah seperangkat perilaku yang diharapkan dilakukan oleh
seseorang sesuai kedudukannya sebagai seorang pemimpin.
Ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan agar kepemimpinan dapat berperan dengan baik,
antara lain:
1. Yang menjadi
dasar utama dalam efektivitas kepemimpinan bukan pengangkatan atau
penunjukannya, melainkan penerimaan orang lain terhadap kepemimpinan yang
bersangkutan
2. Efektivitas kepemimpinan tercermin dari kemampuannya
untuk tumbuh dan berkembang
3. Efektivitas kepemimpinan menuntut kemahiran untuk
“membaca” situasi
4. Perilaku
seseorang tidak terbentuk begitu saja, melainkan melalui pertumbuhan dan perkembangan
5. Kehidupan
organisasi yang dinamis dan serasi dapat tercipta bila setiap anggota mau
menyesuaikan cara berfikir dan bertindaknya untuk mencapai tujuan organisasi.
B. PERAN
KEPEMIMPINAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Kepemimpinan
seseorang dalam sebuah organisasi sangat besar perannya dalam setiap
pengambilan keputusan, sehingga membuat keputusan dan mengambil tanggung jawab
terhadap hasilnya adalah salah satu tugas pemimpin. Sehingga jika seorang
pemimpin tidak mampu membuat keputusan, seharusnya dia tidak dapat menjadi
pemimpin.
Dilain hal, pengambilan keputusan dalam tinjauan perilaku
mencerminkan karakter bagi seorang pemimpin. Oleh sebab itu, untuk mengetahui
baik tidaknya keputusan yang diambil bukan hanya dinila dari konsekwensi yang
ditimbulkannya. Melainkan melalui berbagai pertimbangan dalam prosesnya.
Kegiatan pengambilan keputusan merupakan salah satu bentuk kepemimpinan,
sehingga:
1. Teori
keputusan meupakan metodologi untuk menstrukturkan dan menganalisis situasi
yang tidak pasti atau berisiko, dalam konteks ini keputusan lebih bersifat
perspektif daripada deskriptif
2. Pengambilan
keputusan adalah proses mental dimana seorang manajer memperoleh dan
menggunakan data dengan menanyakan hal lainnya, menggeser jawaban untuk
menemukan informasi yang relevan dan menganalisis data; manajer, secara
individual dan dalam tim, mengatur dan mengawasi informasi terutama informasi
bisnisnya
3. Pengambilan
keputusan adalah proses memlih di antara alternatif-alternatif tindakan untuk
mengatasi masalah.
Dalam
pelaksanaannya, pengambilan keputusan dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu:
proses dan gaya pengambilan keputusan.
1. Proses
pengambilan keputusan
Prosesnya
dilakukan melalui beberapa tahapan seperti:
a. Identifikasi
masalah
b.
Mendefinisikan masalah
c.
Memformulasikan dan mengembangkan alternative
d. Implementasi
keputusan
e. Evaluasi
keputusan
2. Gaya pengambilan keputusan
Selain proses
pengambilan keputusan, terdapat juga gaya pengambilan keputusan. Gaya adalah lear
habit atau kebiasaan yang dipelajari.
Gaya
pengambilan keputusan merupakan kuadran yang dibatasi oleh dimensi:
1. Cara
berpikir, terdiri dari:
a. Logis dan
rasional; mengolah informasi secara serial
b. Intuitif dan kreatif; memahami sesuatu secara
keseluruhan.
2. Toleransi
terhadap ambiguitas
a. Kebutuhan
yang tinggi untuk menstruktur informasi dengan cara meminimalkan ambiguitas
b. Kebutuhan yang rendah untuk menstruktur informasi,
sehingga dapat memproses banyak pemikiran pada saat yang sama.
Kombinasi dari kedua dimensi diatas menghasilkan gaya
pengambilan keputusan seperti:
1. Direktif
= toleransi ambiguitas rendah dan mencari rasionalitas. Efisien, mengambil
keputusan secara cepat dan berorientasi jangka pendek
2. Analitik
= toleransi ambiguitas tinggi dan mencari rasionalitas. Pengambil keputusan
yang cermat, mampu menyesuaikan diri dengan situasi baru
3. Konseptual
= toleransi ambiguitas tinggi dan intuitif. Berorientasi jangka panjang,
seringkali menekan solusi kreatif atas masalah
4. Behavioral
= toleransi ambiguitas rendah dan intuitif. Mencoba menghindari konflik dan
mengupayakan penerimaan.
Berdasarkan uraian di atas, maka berikut adalah
upaya-upaya yang perlu ditempuh seperti:
1. Cerna
masalah
Sejalan dengan
peran kepemimpinan, maka terdapat perbedaan antara permasalahan tentang tujuan
dan metode. Dalam kondisi seperti ini peran pemimpin adalah mengambil inisiatif
dalam hubungannya dengan tujuan dan arah daripada metode dan cara.
2. Identifikasi
alternativ
Kemampuan untuk
memperoleh alternativ yang relevan sebanyak-banyaknya.
3. Tentukan
proritas
Memilih
diantara banyak alternativ adalah esensi dari kegiatan pengambilan keputusan.
4. Ambil
langkah
Upaya
pengambilan keputusan tidak berhenti pada tataran pilihan, melainkan berlanjut pada
langkah implementasi dan evaluasi guna memberikan umpan balik.
C. PERAN
KEPEMIMPINAN DALAM MENGENDALIKAN KONFLIK
Sudah menjadi
sunnatullah, bahwa dinamika kehidupan manusia selalu dihiasi dengan
pententangan ( konflik ) alamiah. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. Surat
Hud ayat 118. yang artinya:
“Jikalau tuhan
menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, akan tetapi mereka
senantiasa berselisih pendapat.” (Q.S. Hud : 118)
Ayat tersebut di atas, diperkuat lagi dengan hadits Nabi
Saw. yang artinya:
“ Perbedaan pendapat umatku adalah
rahmat.” (Al-Suyuthi,
Al-Jami’us Shoghier : 52)
Berkaitan
dengan dunia organisasi, konflikpun kerap kali terjadi misalnya saja konflik
antara pemimpin dengan yang dipimpinnya atau antara kelompok kerja yang satu
dengan yang lain. Konflik terjadi disebabkan oleh berbedanya kepribadian,
kepentingan, latar belakang sosial, budaya, agama dan sebagainya antara
masing-masimg indivdu dalam organisasi tersebut. Konflik tidak bisa dicegah
melainkan hanya bisa dikendalikan, dikelola, bahkan disinergikan menjadi
sesuatu yang sangat dinamis dan harmonis. Dan ini adalah tugas dari seorang
pemimpin.dalam kepemimpinannya. Sehingga dapat dikatakan bahwa efektifitas
kepemimpinan seorang pemimpin adalah dapat dinilai dari bagaimana ia mampu
mengendalikan dan mengelola konflik begitu juga sebaliknya.
1. Definisi konflik
Secara
etimologi, kata konflik berarti perbedaan, pertentangan dan perselisihan. Dalam
Al-Quran konflik disepadankan maknanya dengan kata ikhtilaf seperti termaktub
dalam surat Al-Baqarah ayat 164.
Sedangkan
secara terminologi adalah suasana batin yang berisi kegelisahan karena
pertentangan dua motif atau lebih, yang mendorong seseorang berbuat dua atau
lebih kegiatan yang saling bertentangan pada waktu yang bersamaan.
Adapun konflik
organisasi adalah ketidaksesuaian antara dua atau lebih anggota-anggota atau
kelompok-kelompok organisasi yang timbul karena adanya kenyataan bahwa mereka
harus membagi sumber daya-sumber daya yang terbatas atau kegiatan-kegiatan
kerja dan/atau kenyataan bahwa mereka mempunyai perbedaan status, nilai, atau
persepsi.
2. Komponen
konflik
Secara umum
konflik terbagi atas tiga jenis seperti:
a. Kepentingan (interest), yaitu sesuatu yang memotivasi
orang untuk melakukan atau tidak melakukan seuatu
b. Emosi (emotion), yaitu sesuatu yang sering diwujudkan
melalui perasaan yang menyertai sebagian besar interaksi manusia seperti marah,
benci, takut, dan lain-lain
c. Nilai ( values ), yaitu komponen konflik yang paling
susah untuk dipecahkan sebab nilai merupakan hal yang tidak bisa diraba dan
dinyatakan secara nyata.
3. Sumber
konflik
Sumber-sumber
konflik dapat dibagi menjadi lima, seperti:
a. Biososial,
pakar manajemen menempatkan frustasi-agresi sebagai sumber konflik. Berdasarkan
pendekatan ini, frustasi sering menghasilkan agresi yang mengarah pada
terjadinya konflik
b. Kepribadian dan Interaksi, termasuk di dalamnya adalah
kepribadian yang abrasive (suka menghasut), gangguan psikologi, kemiskinan,
keterampilan interpersional, kejengkelan, persaingan (rivalitas), perbedaan
gaya interaksi, ketidaksederajatan hubungan
c. Struktural, konflik yang melekat pada struktur
organisasi dan masyarakat seperti yang disulut oleh kekuasaan, status, dan
kelas sosial
d. Budaya dan Ideologi, intensitas konflik dari sumber
ini sering dihasilkan dari perbedaan politik, sosial, agama, dan budaya
e. Konvergensi (gabungan), dalam situasi tertentu
sumber-sumber konflik itu menjadi satu, sehingga menimbulkan kompleksitas
konflik itu sendiri.
4. Proses pengendalian konflik
Proses ini
bermula dari persepsi konflik itu sendiri, apa komponennya dan dari mana
sumbernya, kemudian menuju ke tahap realisasi, penghindaran, imtervensi,
pemilihan strategi dan implementasi, serta evaluasi dampak yang ditimbulkan dari
konflik tersebut.
5. Cara-cara
mengendalikan konflik
Dalam
mengendalikan konflik, cara-cara yang dapat dipakai adalah:
a.
Memberikan kesempatan kepada semua anggota kelompok untuk
mengemukakan pendapatnya tentang kondisi-kondisi penting yang diinginkan
b. Meminta satu pihak menempatkan diri pada posisi orang
lain, dan memberikan argumentasi yang kuat mengenai posisi tersebut
c. Kewenangan pimpinan sebagai sumber kekuatan kelompok
dalam pengambilan keputusan atau memecahkan masalah secara efektif.
Selain
cara-cara yang disebutkan di atas ada beberapa cara lagi untuk mengendalikan
dan mengatasi konflik menurut Nader dan Todd dalam salah satu bukunya The
Diputing Process Law in Teen Societies, yaitu:
a. Bersabar (Lumping),
yaitu suatu tindakan yang merujuk pada sikap untuk mengabaikan konflik begitu
saja atau dengan kata lain isu-isu dalam konflik tersebut mudah untuk diabaikan
meskipun hubungan dengan orang yang berkonflik itu berlanjut
b. Penghindaran (Avoidance), yaitu tindakan yang
dilakukan untuk mengakhiri hubungannya dengan cara meninggalkannya
c. Kekerasan / Paksaan (Coercian), yaitu tindakan
yang diambil dalam mengatasi konflik jika dipandang bahwa dampak yang
ditimbulkan membahayakan
d. Negosiasi (Negotiation), yaitu tndakan yang
menyangkut pandangan bahwa penyelesaian konflik dapat dilakukan oleh
orang-orang yang berkonflik secara bersama-sama tanpa melibatkan pihak keluarga
e. Konsiliasi (Conciliation), yaitu tindakan yang
membawa semua yang berkonflik ke meja perundingan
f. Mediasi (Mediation), yaitu cara mengendalkan
konflik dengan cara pihak-pihak yang berkonflik tersebut menyerahkan
penyelesaiannya kepada pihak ketiga
g. Arbitrasi (Arbitration), yaitu kedua belah
pihak yang berkonflik setuju pada keterlibatan pihak ketiga yang memiliki otoritas
hukum dan mereka sebelumnya harus setuju untuk menerima keputusannya
h. Peradilan (Adjudication), yaitu tindakan yang
merujuk pada intervensi phak ketiga yang berwenang untuk campur tangan dalam
penyelesaian konflik, apakah pihak-pihak yang berkonflik itu menginginkan atau
tidak.
D. PERAN KEPEMIMPINAN DALAM MEMBANGUN TIM
Tim adalah
kelompok kerja yang dibentuk dengan tujuan untuk menyukseskan tujuan bersama
sebuah kelompok organisasi atau masyarakat. Tujuan dari pembentukan tim di sini
adalah membangun unit kerja yang solider yang mempunyai identifikasi
keanggotaan maupun kerja sama yang kuat.
1. Proses
pembentukan
Pedoman umum
dalam membentuk atau membangun tim, yaitu:
a. Menanamkan
pada kepentingan bersama
b. Menggunakan seremoni dan ritual-ritual
c. Menggunakan simbol-simbol untuk mengembangkan
identifikasi dengan unit kerja
d. Mendorong dan memudahkan interaksi sosial yang
memuaskan
e. Mengadakan pertemuan-pertemuan membangun tim
f. Menggunakan jasa konsultan bila diperlukan.
2. Anggota tim
Keberhasilan
tugas dalam tim akan tercapai jika setiap orang bersedia untuk bekerja dan
memberikan yang terbaik. Anggota tim yang baik harus:
a. Mengerti tujuan yang baik
b. Memiliki rasa saling ketergantungan dan saling
memiliki
c. Menerapkan bakat dan pengetahuannya untuk sasaran tim
d. Dapat bekerja secara terbuka
e. Dapat mengekspresikan gagasan, opini, dan
ketidaksepakatan
f. Mengerti sudut pandang satu dengan yang lain.
g. Mengembangkan keterampilan dan menerapkanya pada
pekerjaan.
h. Mengakui bahwa konflik adalah hal yang normal.
i. Berpartisipasi dalam keputusan tim.
3. Peranan
kepemimpinan dalam tim
Kepemimpinan
didefinisikan sebagai proses untuk memberikan pengarahan dan pengaruh pada
kegiatan yang berhubungan dengan tugas sekelompok anggotanya.
Mereka yakin
bahwa tim tidak akan sukses tanpa mengkombinasikan kontribusi setiap anggotanya
untuk mencapai tujuan akhir yang sama.
Adapun peranan
pemimpin dalam tim adalah sebagai berikut:
a. Memperlihatkan gaya pribadi
b. Proaktif dalam sebagian hubungan
c. Mengilhami kerja tim
d. Memberikan dukungan timbal balik
e. Membuat orang terlibat dan terikat
f. Memudahkan orang lain melihat peluang dan prestasi
g. Mencari orang yang ingin unggul dan dapat bekerja
secara kontruktif
h. Mendorong dan memudahkan anggota untuk bekerja
i. Mengakui prestasi anggota tim
j. Berusaha mempertahankan komitmen
k. Menempatkan nilai tinggi pada kerja tim.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Berdasarkan
pada uraian di atas, maka seorang pemimpin selayaknya memiliki peran sebagai
contoh atau suri tauladan bagi para bawahannya. Dan seorang pemimpin juga harus memiliki kemampuan yang bisa membawa setiap
keputusan yang dihasilkan tidak menimbulkan masalah dikemudian harinya.
DAFTAR PUSTAKA
Kamal, “Kepemimpinan dalam Organisasi,”
dalam http://nda-kamal.blogspot.com/html.
(21
Nopember 2009)
Rivai,
Veithzal, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2007).
Roman, “Peran Kepemimpinan dalam Pengambilan Putusan,”
dalam http://one.indoskripsi.com. (21 Nopember 2009)
http://leadhership.blogspot.com/
http://bukunnq.wordpress.com/makalah-pengambilan-keputusan-secara-objektif-dan-konstruktif/
Komentar
Posting Komentar