Pemimpin yang Efektif, Efisien dan Rasional




Mengunakan Dasar Teori X, Y, Z.

Teori X
Menyatakan bahawa pada dasarnya manusia adalah makhluk pemalas yang tidak suka bekerja serta senang menghindar dari pekerjaan dan tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Pekerja memiliki cita-cita yang kecil untuk mencapai tujuan syarikat namun menginginkan balas jasa serta jaminan hidup yang tinggi. Dalam bekerja para pekerja harus terus diawasi, diancam serta diarahkan agar dapat bekerja sesuai dengan yang diinginkan syarikat.( McGregor, D. (1960). The Human Side of Enterprise, New York, McGrawHill)


Di dalam suatu organisasi para pekerja pada umumnya berusaha bekerja sedikit mungkin, mereka tidak mempunyai ambisi untuk maju, tidak menyenangi tanggung jawab, tidak mempunyai gairah untuk menemukan cara kerja yang lebih baik, mereka pada umumnya kurang pandai, bekerja secara pasif, senang menghasut, senang menipu diri sendiri, para pekerja melakukan pekerjaan dengan mengutamakan imbalan materi, bekerja berdasarkan perintah, tidak pernah mengemukakan gagasan baru, sering tidak masuk kerja dengan berbagai alas an yang dicari-cari, senang memberikan laporan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Dengan alas an itu seorang pemimpin seharusnya melakukan arahan yang bersifat keras, membuat hukuman dan pengontrolan dilakukan secara ketat, dilakukan cara memimpin yang otoriter, sentralistis, tindakan tegas. Hanya dengan jalan ini organisasi dapat berjalan dengan kea rah pencapaian tujuan walaupun dengan susah payah. 
Teori Y
Memiliki anggapan bahwa kerja adalah kudrat manusia seperti halnya kegiatan sehari-hari. Pekerja tidak perlu terlalu diawasi dan diancam secara ketat kerana mereka memiliki pengendalian serta pengerahan diri untuk bekerja sesuai tujuan syarikat. Pekerja memiliki kemampuan kreatif, imaginasi, kepandaian serta memahami tanggungjawab dan prestasi atas pencapaian tujuan bekerja. Pekerja juga tidak harus mengerahkan segala potensi diri yang dimiliki dalam bekerja. ( McGregor, D. (1960).
Sedangkan teori y dapat dirumuskan secara sederhana sebagai berikut : Didalam organisasi para pekerja pada umumnya senang bekerja, mereka merasakan kerja sebagai hobi, bekerja dengan penuh keaktifan, rasa tagging jawab yang besar, rajin, disiplin, penuh rasa pengabdian, ada gairah untuk maju, selalu berusaha menemukan cara kerja yang lebih baik, banyak gagasan baru diajukan, para pekerja lebih senang mengarahkan diri sendiri, mengontrol diri sendiri, sehingga pengarahan yang dilakukan lebih bersifat mengikuti, pengontrolan jadi tidak teralu ketat, cara memimpin demokratis, banyak pelimpahan wewenang, banyak mengikutsertakan bawahan dalam pengambilan keputusan.
Kaitan teori X-Y dengan teori Z dalam Kepemimpinan
Teori Z adalah nama bagi tiga teori psikologi yang jelas berlainan. Satu dibangunkan oleh Abraham H. Maslow dalam kertas kerjanya Theory Z dan yang lain nya adalah Dr. William Ouchi yang dikenali sebagai gaya "Pengurusan Jepun" yang dipopularkan semasa ledakan ekonomi Asia pada 1800-an. Yang ketiga dibangunkan oleh W. J. Reddin dalam Keberkesanan Pengurus (panduan 19 Situasi) Manusia:
Punca menggalakkannya. Sama bergantung adalah mod utama bagi perbincangan ("discourse"). Interaksi merupakan unit sosial bagi kepentingan.
"Objektif" terbaik dan teringkas bagi menggambarkan konsep manusia bagi manusia.
Teori Y McGregor bertentangan dengan Teori X yang menyatakan bahawa pekerja secara lazimnya benci dan tidak suka bekerja dan perlu dipaksa melakukannya, dan Teori Y yang menyatakan bahawa kerja adalah seimbang dan boleh menjadi punca kepuasan apabila disasar pada keperluan psikologi manusia pada tahap yang lebih tinggi.

Bagi Ouchi, Theori Z menumpu pada meningkatkan kesetiaan pekerja kepada syarikat dengan memberikan kerja sepanjang hayat dengan tumpuan kepada kebaikan pekerja, kedua-dua semasa dan selepas kerja. Menurut Ouchi, pengurusan Teori Z cenderung menggalakkan pekerjaan stabil, pengeluaran tinggi, dan moral dan kepuasan pekerja lebih tinggi.

Namun teori Z mengkombinasikan teori XY dengan gaya kepemimpinan bisnis ala Jepang dan mengharapkan karyawan selalu loyal atau memiliki kesetiaan yang tinggi kepada organisasi. Teori Z bisa juga dibilang sebagai penyempurnaan dari teori Y dalam memotivasi karyawan. Negara Jepang terkenal sebagai negara yang produktivitasnya tergolong tinggi di dunia, dengan perekonomian yang sangat kuat. Kesuksesan banyak perusahan di Jepang dalam mengelola para pekerja menjadi dasar dalam menyusun teori Z untuk memotivasi para karyawan di sebuah perusahaan untuk lebih produktif dan juga berkomitmen tinggi.
Teori Z ini memandang kebutuhan karyawan sebagai faktor pendorong motivasi kerjanya tidak hanya sebatas pada kebutuhan fisik dan keamanan/kepastian saja. Kepedulian perusahaan terhadap kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan mental-emosional-sosial-spiritual karyawan sangat diperhatikan dalam mengaplikasikan teori Z ini. Sesuai struktur yang lebih tinggi dalam hirarki kebutuhan Maslow, teori Z memperhatikan pemenuhan kebutuhan karyawan untuk bersosialisasi, berkelompok, mempererat hubungan dengan sesama rekan kerja dan perusahaan, serta menguatkan kepercayaan diri yang akhirnya mendukung aktualisasi diri sang karyawan. Menurut Ouchi, penerapan dari teori Z dalam perusahaan akan memberikan stabilitas SDM (para karyawannya jarang yang berhenti, pindah kerja, atau berulah minta dipecat),meningkatkan produktivitas dengan menaikkan level kepuasan kerja dan moral dari para karyawan. Karyawan menjadi sangat setia dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaannya. Kedisiplinan dan kerja keras menjadi nilai-nilai yang membudaya di dalam perusahaan selama manajemen dipercaya untuk selalu mendukung dan memberikan kesejahteraan.

Teori Z juga meningkatkan kompetensi karyawan dengan rotasi pekerjaan dan pelatihan-pelatihan yang intensif. Hal ini dilakukan agar karyawan yang promosi menjadi pemimpin memiliki pengetahuan yang menyeluruh terhadap semua operasional perusahaan dan akan mampu menggunakan teori Z untuk memotivasi semua bawahannya khususnya para karyawan yang masih baru.





https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhS4tA5fHIC0GrPDHB0fGg8wKltN7KgdmKCvOCqPzZ29TkGPmz2vHzcWT8be54OsJtn1RQdwWJ5cId8J_g9XSS0snduQPTxZEBqoUdS9EwbEqwMw9NKtQLvbM0BnmvYtbOUjVHW37Fjx4AC/s320/xy.jpg
A.Kesimpulan Pertama:
Pada gambar tersebut terdapat 2 koordinat sumbu x-y yang digunakan untuk menentukanArea kekuasaan dan kebebasan antara koordinat x dan koordinat y dari titik tersebut.




Pada area “Penggunaan kekuasaan oleh Pemimpin”  sumbu x-y tersebut memberikan penjelasan bahwa  para pemimpin menggunakan kekuasaan secara otoritatif dimana kekuasaan dipegang penuh oleh pemimpin terlihat dari sumbu x-y yang mengerucut ke atas.
Sedangkan pada “area kebebasan bawahan” pemimpin membeikan kebebasan kepada bawahan secara penuh sehingga terciptalah kepemimpinan secara demokratis hal tersebut terlihat dari sumbu x-y yang semakin luas ke atas.

B.     Kesimpulan kedua:
Robet Tannebaum dan warren H. Schmidt mengemukakan perbandingan antara tiga gaya kepemimpinan (Otoriter, demokratis dan liberal.)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjFHgwZ6NTN8KXlAcqp2oHgu-1ftyHcvepWJ2Z_vWA-ditAcJLNr58196whiJBcj4hee5rJy2BVwDTwB6OtvhbYtjLS4Iflkf9NySGlCOZkwC8vOQaN2-8b1jJWe1V9p4irZiT2zN8-IZC/s320/ssx.jpg
Pada gambar diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :
Dalam organisasi yang dipimpin dengan gaya demokrasi peran aktif dilakukan baik oleh pemimpin maupun bawahan secara seimbang.



Pada panah pertama di gambar menjelaskan tentang pemimpin yang membuat keputusan dan mengumumkannya. Hal tersebut berarti pada panah pertama pemimpin menerapkan otoriter murni.
Pada panah kedua digambar menjelaskan tentang pemimpin yang menjual keputusan
Pada panah ketiga pimpinan menyajikan ide dan mengundang pertannyaan
Pada panah ke empat pimpinan menyajikan kemungkinan keputusan yang dapat diubah
Pada panah ke lima pimpinan menyajikan masalah, menerima saran dan membuat keputusan
Pada panah ke enam pimpinan merumuskan batas, meminta bawahan membuat keputusan
Pada panah ke tujuh pimpinan memberi kesempatan bawahan untuk membuat keputusan dalam batas yang ditetapkan pimpinan.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg4F6mZLaIkOY2aqfJIXmTFGExTGkF5E6foRGip0KA_QT12qPUWS9vKKahfDJuqZaIu26LyB8nDhPAFpPy5Xe5vbLSePjcafJUOlv7IEcdq_QAEzAQuDvSHJNmdKrdburSmm8zz09oDYgLW/s320/xyy.jpg

     

   C.  Kesimpulan ketiga:
Jika digambarkan dengan teori Likert pada gambar tersebut akan memunculkan penjelasan yang disebut dengan system 4 . Sistem 4 tersebut merupakan perbandingan antara perilaku kepemimpinan. System 4 tersebut berupa otokratis pemerasan, otokratis bijak, kepemimpinan konsultasi, kepemimpinan peran serta kelompok. Dan ditambah prilaku yang dikemukakan oleh lewin yaitu ; Otokratis, demokratis, liberal, dapat ditunjukan dalam gambar dibawah ini.
  










Dari kesimpulan tersebut dapat diambil kesimpulan dan penjelasan lebih mendalam seperti tabel dibawah ini mengunakan pendekatan.
Teori: Reward  Power, Coursive Power, Legitimate Power,  Exspert Power, Referens Power.

(Tabel: Sutarto, (Dasar-dasar Kepemimpinan Administrasi) dan Muhammad astaja, (Administrasi Perkantoran) dengan beberapa editan (UNITRI, Malang), 95.)


Variabel Kepemimpinan
T1
T2
T3
T4
1.      Kepercayaan dan penghargaan pada bawahan
Tidak ada kepercayaan dan penghargaan pada bawahan
Memiliki rasa rendah diri kepercayaan dan penghargaan, seperti tuan terhadap pelayan
Kuat tetapi tidak lengkap dalam kepercayaan; masih mengharapkan menguasai menguasai keputusan yang di ciptakan bersama.
Kepercayaan dan penghargaan lengkap untuk segala hal yang berhubugan dengan pekerjaan.
Perasaan kebebasan bawahan.
Bawahan sama sekali tidak merasakan bebas untuk berdiskusi tentang pekerjaan dengan atasannya.
Bawahan tidak merasa amat bebas untuk berdiskusi tentang pekerjaan dengan atasannya.
Bawahan agak merasa bebas untuk berdiskusi tentang pekerjaan dengan atasannya.
Bawahan merasa bebas sepenuhnya untuk berdiskusi tentang pekerjaan dengan atasannya.
Atasan mencari keterlibatan dengan bawahan
Jarang mengambil gagasan dan pendapat dari bawahan dalam pemecahan masalah
Kadang-kadang mengambil gagasan dan pendapat bawahan dalam pemecahan masalah
Biasanya mengambil gagasan dan pendapat bawahan dan biasanya mencoba membuat berguna dengan memakai gagasan dan pendapat bawahan
Selain meminta bawahan untuk menyampaikan gagasan dan pendapat dan selalu membuat berguna dengan memakai gagasan mereka.




Dengan kata lain seorang pemimpin harus selalu menggingat rumusnya sebagai seorang pemimpin.
Rumus :
R: L= F (L.F.S)
Kesimpulan umum:
Bahwa dalam menjelankan sebuah organisasi, pemimpin membutuhkan pengikut yang selalu mendukung serta menjalankan kebijakan yang telah disepakati dengan aturan-aturan yang telah dibuat dan disepakati untuk mencapai tujuan organisasi serta melihat kondisi yang terjadi didalam organisasi apakan sistem yang diterapkan benar (Otokratis, demokratis, liberal) harus melihat situasi yang berkembang dalam organisasi sehingga apa yang dihasilkan tidak mengalami kepincangan sampai membuat fatal dalam sebuah organisasi.

Sehingga cita-cita organisasi yang menghasilkan Pemimpin agent of change and development” yang efektif, efisien dan rasional akan tercipta dengan kepercayaan yang tinggi karena sudah memiliki kerangka dengan acuan teori-teori yang terdapat diatas serta kepuasan yang akan diperoleh organisasi (human) sehingg mengasilkan etos kerja yang semangkit tinggi.

Pemimpin yang baik adalah pemimpimpin yang bisa menggunakan sutuasi dengan baik, artinya pemimpin yang bisa bagaimana saat menggunakan, kapan ia harus menjadi pemimpin yang Demokratis, Liberal dan Otoriter.

Komentar