Lihatlah Kami Yang Ada Di Perbatasan
Aku adalah alumni SMP Negeri 2 Jagoi
Babang, Dusun Saparan, Desa Kumba, Kec. Jagoi babang, Kab. Bengkayang Kalimantan
Barat yang berbatasan langsung dengan negara tetangga
Malaysia. Jarak dari sekolah ke Malaysia hanya sekitar 10 Km, sungguh dekat
dengan negara yang sekarang luar biasa dalam sektor pendidikan. Aku lulusan tahun 2010 merupakan angkatan pertama
di sekolah itu, pada saat awal proses
pembelajaran jumlah guru 8 orang yang terdiri dari 5 orang Pegawai Negeri 3
orang guru honorer. Sepanjang perjalan pendidikanku di sekalah rasanya tidak
ada yang bisa di banggakan lebih, kecuali sistem kekeluargaan yang kuat. Kami masuk
sekolah sama dengan sekolah negeri lainnya, jam 07.00 masuk pulang jam 12.45,
itu di jadwal, tetapi pada kenyataannya kami selalu pulang awal jam 09.30
kadang-kadang dikarenakan tenaga pengajar yang tidak datang dikaranakan hujan
dan lain sebagainya. Ironisnya sekarang sekolahku tidak terlalu di perhatikan. Untuk
tenaga pengajar sampai saat ini hanya
tersisa 4 orang, 3 orang Pegawai Negeri 1 orang honorer.
Data Raferensi dari KEMDIKBUD juga banyak kekeliruan, contohnya tentang
alamat, seharusnya alamat sekolah tersebut berada di Desa Saparan, bukan di
Desa jagoi Babang, bukan jalan Malindo, tetapi jalan Raya Saparan. Untuk
sarana dan prasarana sudah banyak yang rusak, dari wc, kursi, pagar sekolah,
atap dan masih banyak yang lainnya. Tenaga pengajar yang kurang membuat salah
satu alasan mengapa para orang tua siswa tidak menitipkan anaknya ke sekolah
tersebut, tenaga pengajar kurang, tidak di aliri listrik, tidak ada internet,
tidak ada kegiatan ektrakurikuler, tidak ada studi banding. Salat satu potret
pendidikan yang sangat prihatin terjadi di sini. Tolong kepada orang-orang yang
lebih bertanggung jawab akan pendidikan dan daerah perbatasan lihatlah ini,
lihat masalah ini. Kami juga inign memperoleh pendidikan yang sama dengan
teman-teman diluar sana, bukan dari jam masuknya, tetapi dari tenaga pengajar,
saran dan prasarana, dan lain sebagainya.
Akses jalan yang rusak, membuat salah satu kesulitan bagi
mereka untuk menuntut ilmu, ketika musim hujan datang, jalan ini hanya
tergenang oleh air.
Salah satu sudut bangunan sekolah yang luar biasa
bagusnya, tetapi tidak ada penghuni, untuk jumlah peserta didik tahun 2010
hanya 42 orang jumlah keseluruhan, setiap tahun juga mengalami penurunan yang
luar biasa. Kami hanya berharap, lihatlah daerah kami, kami juga orang
Indonesia, kami taat membayar pajak, tetapi mengapa kami tidak mendapat
pendidikan yang sama. Kami tetap menganggap NKRI harga mati. Salam satu jiwa.
Komentar
Posting Komentar