Kaitan Human Relation dan Public Relation dalam Membangun Kepercayaan Masyarakat dalam Proses Penyelengaraan Pemilu
Di kebanyakan negara demokrasi,
pemilihan umum dianggap lambang, sekaligus tolak ukur dari demokrasi itu. Hasil
pemilihan umum yang diselenggarakan dalam suasana keterbukaan dengan kebebasan
berpendapat dan kebebasan berserikat serta kebebasan memilih dianggap mencerminkan
dengan agak akurat partisipsi serta aspirasi masyarakat untuk bersama-sama
membangun demokrasi. Karena, sama-sama kita ketahui tingkat partisipasi
masyarakat Indonesia dalam pelaksaaan demokrasi yang salah satunya adalah
pemilihan umum masih sangat rendah.Sekalipun demikian, disadari bahwa pemilihan
umum tidak merupakan satu-satunya tolak ukur dan perlu dilengkapi dengan
pengukuran beberapa kegiatan lain yang lebih bersifat kesinambungan seperti human
relation, public relation, partisipasi dalam kegiatn partai, lobbying dan
sebagainya. Untuk itu, human relation dan public relation dalam hal ini perlu
menjadi perhatian khusus dan perlu ditanamkan sejak dini kepada masyarakat.
Human relation menurut
Cabot dan Kahl (1967) suatu sosiologi yang kongkrit karena meneliti situasu
kehidupan, khususnya masalah interaksi dengan pengaruh dan psikologisnya. Jadi,
interaksi mengakibatkan dan menghasilkan penyesuaian diri secara timbal balik
yang mencakup kecakapan dalam penyesuaian dengan situasi baru. Dan, apa kaitannya
dengan pemilihan umum. Human relation menekan pada hubungan atau interaksi yang
terjadi baik interaksi dengan satu orang, interaksi dengan kelompok untuk
memenuhi kebutuhan atau tujuan. Tentunya dalam interaksi tersebut dibutuhkan
pemahaman (muthual andestandy). Disinilah
letak jurang pemisah antara masyarakat dan para calon kandidat dalam
penyelengaraan pemilihan umum. Apa yang diinginkan masyarakat dalam demokrasi
ini, seringkali tidak begitu dipahami oleh para kandidat yang mencalonkan diri
untuk duduk di kursi parlemen. Hal tersebut menjadikan iteraksi yang terjadi
kurang tepat sasaran, sehingga apa yang diingkan masyarakat atau tujuan
masyarakat tidak tercapai. Sehingga masyarakat merasa dirugikan dan bersikap
apatis terhadap penyelengaraan pemilian umum. Untuk itu, perlunya interaksi
yang selalu dijaga oleh para kandidat kepada masyarakat untuk membangun
demokrasi yang lebih baik.
Sedangkan
public retation kegiatan komunikasi yang pada hakikinya adalah komunikasi dua
arah atau timbal balik (two way
communicatioans). Public relation menekankan pada pencitraan yang salah
satu prinsipnya adalah pencitraan terhadap lembaga. Hal ini yang perlu
dilakukan oleh para penyelenggara pemilihan umum atau para partai politik untuk
menyakinkan masyarakat dalam penyelenggaraan demokrasi di Indonesia. Karena salah
satu fungsi public relatioan adalah membina sikap mental masyarakat agar dalam
diri mereka tumbuh ketaatan, kepatuhan, dan dedikasi terhadap lembaga-lembaga
yang mereka anggap baik.
Human
relation dan public relation adalah salah satu cara untuk membangun demokrasi
di Indonesia lebih baik lagi. Karena kribilitas yang mereka jastifikasikan
kepada kita adalah bagaimana kita menjaga interaksi dan komunikasi kita
terhadap orang lain. Karena proses interaksi melibatkan perasaan, kata yang
diucapkan dalam komunikasi, mencerminkan perasaan dan sikap, proses penyesuaian
diri. Hubungan antar manusian secara encoba menemukannya, mengidentifikasi
masalah dan membahas untuk mendapatkan pemecahannya. Serta stigma orang kepada
kita tercermin dari bagaimana kita membangun komunikasi dan interaksi kepada
mereka.
Komentar
Posting Komentar